Minggu, 29 Maret 2015
Semburat sinar merah sang mentari membangunkanku dari tidur yang jauh dari kata nyenyak.
Pukul 05.30 pagi. Di luar jendela, yang terlihat hanyalah gumpalan awan—tebal, putih, dan seolah tak berujung. Tak lama kemudian, lampu kabin menyala. Sang kapten mengumumkan bahwa suhu udara di Narita saat ini 9°C dan kami dijadwalkan mendarat pukul 08.00 pagi.
Sesuai janjinya—Kapten yang namanya Indonesia banget tapi logatnya Malaysia sejati—pesawat mendarat dengan mulus di Terminal 2 Bandara Internasional Narita, tepat pukul 08.00. Lebih cepat 30 menit dari jadwal.
Begitu melangkah keluar dari pesawat, udara dingin langsung menyergap tanpa ampun. Spontan, aku melilitkan syal ke leher, berusaha menjauhi gigil. Kami diangkut dengan bus menuju terminal kedatangan. Namun begitu pintu bus tertutup, udara dingin mendadak tergantikan oleh panas yang tidak bersahabat—dan aroma tajam khas manusia yang belum mandi. (Mungkin bauku sendiri 😷)